Rabu, 29 Maret 2017

Review Jurnal 6 (Translasi Mata Uang Asing)

Nama Jurnal
Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan
Volume/Halaman
Volume 15, Nomor 2, hlm.127-134
Nama Penulis
Ferdy Ardiyanto dan Ahmad Ma’ruf
Judul Jurnal
PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA DALAM DUA PERIODE PENERAPAN SISTEM NILAI TUKAR
Tanggal Jurnal
Oktober 2014
Tujuan Penelitian
- Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan
nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada dua periode data, periode penerapan sistem
nilai tukar mengambang terkendali (1990-1997) dan periode penerapan sistem nilai tukar
mengambang bebas (1998-2013).

-          - Untuk mengetahui apakah faktorfaktor
yang mempengaruhi nilai tukar memiliki pengaruh yang berbeda pada dua periode
tersebut.
Metode Penelitian
Regresi Linear Berganda dan Uji Chow.
Variabel Penelitian
Variabel Dependen: Nilai tukar (kurs) rupiah pada dolar Amerika

Variabel Independen:Data dari tingkat inflasi, jumlah uang beredar dan peroduk domestik bruto
Hasil Penelitian
Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi, jumlah uang beredar dan pendapatan domestik bruto memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah pada dolar
Amerika. Hasil analisis Uji Chow menyajikan kesimpulan bahwa ketiga faktor ekonomi tersebut secara simultan memiliki pengaruh yang berbeda di dua periode penerapan sistem nilai tukar yang pernah di terapkan di Indonesia.
Kesimpulan Penelitian
Pertama, hasil pengujian variabel dependen pada periode penerapan sistem nilai tukar mengambang terkendali dan mengambang bebas yaitu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, berdasarkan Uji F pada kedua periode tersebut dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan) variabel independen yaitu inflasi, jumlah uang beredar (M1) dan produk domestik bruto terhadap nilai tukar rupiah pada dolar Amerika. Kedua, berdasarkan hasil Uji t (Uji Secara Parsial) pada periode penerapan sistem nilai tukar mengambang terkendali dan mengambang bebas sebelum diterapkannya free floating exchange rate system dapat disimpulkan variabel inflasi berpengaruh signifikan secara positif
terhadap kurs, variabel jumlah uang beredar (M1) berpengaruh signifikan secara positifterhadap kurs dan variabel produk domestik bruto berpengaruh signifikan secara negatif terhadap kurs pada dua periode penerapan kebijakan sistem nilai tukar tersebut. Ketiga, Berdasarkan hasil perhitungan pada uji Chow, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh variabel-variabel independen secara simultan yang sangat signifikan yaitu inflasi, jumlah uang beredar dan produk domestik bruto terhadap variabel dependen yaitu kurs pada periode penerapan sistem nilai tukar mengambang terkendali dan periode penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas.
Pendapat Mengenai Jurnal
Kebijakan sistem nilai tukar yang diterapkansuatu negara sangat menarik untuk ditelaah apakah sistem tersebut sudah sesuai diterapkan dengan kebutuhan ekonomi, kondisi ekonomi dan pada waktu yang tepat. Sebab jika kondisi ekonomi di negara itu sendiri sedang tidak stabil terlebih pada saat kondisi kurs yang
sangat fluktuatif, kebijakan untuk berganti sistem nilai tukar sangatlah rentan akan mendatangkan kekacauan perekonomian negara itu sendiri. Terlebih karena kurs kaitannya interaksi dengan negara lain maka penerapannya juga harus memperhatikan kondisi perekonomian dunia dan negara-negara lain, seperti halnya krisis global yang melanda Amerika Serikat dan lainnya.

Referensi :


Review Jurnal 5 (Pelaporan & Pengungkapan)

Nama Jurnal
Jurnal Ekonomi dan Keuangan
Volume / Halaman
Vol. 18 NO.3  / 20
Nama Penulis
Fadhil Muhammad dan Sylvia VeronicaSiregar
Judul Jurnal
ANALISIS TINGKAT PENGUNGKAPAN SEGMEN:FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN DAMPAKNYA TERHADAP BIAYA EKUITAS
Tanggal Jurnal
September 2014
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan  untuk menganalisis tingkat pelaporan segmen operasi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), faktor-faktor dari karakteristik perusahaan yang mempengaruhi, dan dampak tingkat pelaporan segmen operasi terhadap biaya modal ekuitas.
Metode Penelitian
Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan didasarkan pada kriteria yaitu perusahaan manufaktur menerbitkan laporan keuangan secara lengkap per 31 Desember  pada tahun 2010 dan 2011, perusahaan yang memiliki nilai buku ekuitas positif, perusahaan mengungkap informasi segmen pada laporan keuangannya, satuan mata uang pelaporan dalam laporan keuangan perusahaan dinyatakan dalam rupiah, memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel yang digunakan dalam penelitian.  Penelitian menganalisis dampak pengungkapan informasi segmen terhadap biaya modal ekuitas yang diukur dengan menggunakan CAPM  dengan menganalisis 64 sampel perusahaan yang terdaftar di BEI
Variabel Penelitian
1.      Tingkat Pengungkapan Informasi Segmen (SEGDISCL).
2.      Biaya Modal Ekuitas (COE)
3.      Ukuran Perusahaan (SIZE)
4.      Kualitas Audit (AUD)
5.      Umur Perusahaan (AGE)
6.      Kepemilikan Publik (DIFF)
7.      Profitabilitas (PROFIT)
8.      Leverage (LEV)
9.      Likuiditas (LIQ)
10.  Tingkat Pertumbuhan (GROWTH)
11.  Market to Book Value Ratio (MTBV)
12.  Return on Assets (ROA)
13.  Jenis Industri (IND)
Hasil Penelitian
-Dalam penelitian ini dilakukan treatment winsorizing untuk outliers. Dari Uji White (White’s General Heteroscedasticity) pada model penelitian, ditemukan adanya permasalahan heteroskedastisitas pada model 1, akan tetapi telah dilakukan treatment White Heteroscedasticity (no cross term) pada program Eviews 6 agar permasalahan tersebut dapat diatasi. Terkait dengan uji multikolinearitas, tidak ditemukan adanya permasalahan multikolinearitas pada variabel-variabel independenyang diteliti.
-Dari hasil pengujian  didapat bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan informasi segmen
-kualitas audit ditemukan berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan informasi segmen
-Terkait dengan variabel umur perusahaan, ditemukan bahwa umur perusahaan belum mampu mempengaruhi luas pengungkapan informasi segmen perusaha an berdasarkan data perusahaan yang terdaftar di BEI.
-untuk variabel kepemilikan publik ditemukan berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan informasi segmen
-Profitabilitas berdasarkan hasil pengujian ditemukan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan informasi segmen
-Untuk variabel leverage, ditemukan adanya pengaruh positif terhadap luas pengungkapan informasi segmen.
-tingkat likuiditas perusahaan berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan informasi segmen.
-variabel tingkat pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan informasi segmen,
Kesimpulan Penelitian
Dari hasil analisis didapat bahwa tingkat pengungkapan informasi segmen perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI sudah cukup baik, dengan rata-rata tingkat pengungkapan informasi sebesar 65%.
Pendapat Mengenai Jurnal
Jurnal ini sudah cukup baik dan mudah dipahami serta ditelaah

Referensi :

Review Jurnal 4 (Akuntansi Komparatif Amerika & Asia)

Nama Jurnal
Jurnal Keuangan dan Perbankan
Volume / Halaman
Vol. 12 NO.1  / 14
Nama Penulis
Hendrian dan Noorina Hartati
Judul Jurnal
RELEVANSI INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP NILAI PERUSAHAAN: STUDI KOMPARASI INDONESIA (LOCAL GAAP) VS MALAYSIA (IFRS-NFC)
Tanggal Jurnal
Desember 2015
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah pengaruh informasi akuntansi (laba operasi, arus kas operasi, dan nilai buku ekuitas) terhadap nilai perusahaan di Negara Malaysia (IFRS NFC) lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh informasi akuntansi (laba operasi, arus kas operasi, dan nilai buku ekuitas) terhadap nilai perusahaan di Negara Indonesia (Local GAAP).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan (yang diterbitkan perusahaan go public) yang diperolehdari  database Osiris dan Bloomberg Bapepam. Sedangkan data pasar diperoleh dari Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia.  Sampel penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur selama tahun 2005 - 2011. Mulai tahun 2005, Malaysia menerapkan penggunaan standar akuntansi IFRS-NFC (Not Fully Compliant).

Variabel Penelitian
Variabel independen:
laba operasi, arus kas operas, dan nilai buku ekuitas
Variabel dependen :
nilai perusahaan
Hasil Penelitian
Untuk uji normalitas didapat hasil yang menunjukkan bahwa nilai signifikan lebihbesardari 0,05, dapat dikatakan data terdistribusi normal.
Hasil perhitungan menunjukkan nilai Fhitung =  17,14.

Untuk t hitung
LBOK  = -16,35
AKOK  = 0
NBEK =  168,84
LEV   =  -12,56

Hasil Chow test dan t-test menunjukkan Dengan memperhatikan adjusted R2 untuk hasil regresi yang terpisah, nampak bahwa nilai koefisien adjusted R2 model regresi Malaysia (43,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia (17,5%). Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan menjelaskan informasi akuntansi (laba operasi, arus kas operasi, dan nilai buku ekuitas) terhadap nilai perusahaan (kapitalisasi  pasar) pada model regresi Malaysia lebih baik daripada model regresi Indonesia. 
Kesimpulan Penelitian
Hasil Chow test dan t-test yang dilakukan dalam penelitian membuktikan bahwa hanya pengaruh informasi nilai buku ekuitas terhadap nilai perusahaan Malaysia (IFRS-NFC) lebih kuat dibandingkan dengan Indonesia (Local GAAP). berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Didapat Informasi laba operasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan baik untuk model Indonesia maupun model Malaysia yang dikontrol dengan leverage.  Informasi arus kas operasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan baik untuk model Indonesia maupun model Malaysia yang dikontrol dengan leverage.  Informasi nilai buku ekuitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan baik untuk model Indonesia maupun model Malaysia yang dikontrol dengan leverage.  Terdapat perbedaan pengaruh informasi nilai buku ekuitas terhadap nilai perusahaan antara Negara Malaysia (IFRS-NFC) dan Negara Indonesia (Local GAAP).  Pengaruh informasi akuntansi nilai buku ekuitas terhadap nilai perusahaan di Negara Malaysia (IFRS-NFC) lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh informasi akuntansi nilai buku ekuitas terhadap nilai perusahaan di Negara Indonesia (Local GAAP), nilai buku ekuitas termasuk item-item neraca yang diukur berdasarkan fair value accounting.

Pendapat Mengenai Jurnal
Variable bebas yang digunakan masih sedikit, untuk penelitian lebih spesifik ke dunia internasional, lebih baik menggunakan sampel yang lebih banyak agar mendapat hasil yang lebih akurat dan signifikan.

Referensi :

Selasa, 21 Maret 2017

Review Jurnal No 3 (Akuntansi Komparatif Eropa)

Nama Jurnal
Jurnal Ilmu Politik Hubungan Internasional
Volume / Halaman
Vol. 8 No.1 / 21
Nama Penulis
Ali Martin dan Sugiarto Pramono
Judul Jurnal
FAKTOR-FAKTOR PENDORONG INTEGRASI REGIONAL : Studi Perbandingan Uni Eropa dan ASEAN
Tanggal Jurnal
Januari 2011
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedua organisasi regional (Uni Eropa – ASEAN).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa informasi-informasi kajian pustaka
Variabel Penelitian
V1 : Intensitas Perang di
Eropa dan Asia Tenggara 
V2 : Derajat Keterikatan
(Kohesifitas) Anggota
V3 : Derajat Efektifitas
Institusinya
V4 : Tingkat Kerjasama
Organisasi
Hasil Penelitian
V1:
Membandingkan sejarah perang di kedua region, Eropa dan Asia Tenggara, jelas berbeda. Kendati perang juga terjadi di Asia Tenggara dengan intensitas yang tidak kecil, perang di Eropa jauh lebih mematikan
di lihat dari sisi negara yang terlibat, cakupan area dan kerugian baik korban meninggal maupun materi.

Intensitas perang di Asia Tenggara mereda setelah Prancis dan Inggris mendarat ke Asia Tenggara, namun setelah perang Vietnam usai (1975) Vietnam kembali meneruskan invasinya ke Kamboja. Kalau perang
Vietnam (1975) merupakan wujud perpanjangan kepentingan Amerika
dan Uni Soviet maka invasi Vietnam ke Kamboja muncul dari sifat  agresifitas Vietnam.
(Disadur dari Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara: teropong Terhadap Dinamika, Realitas dan Masa Depan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal 9)

Sementara  di sisi lain, Eropa merupakan kawasan yang ”kenyang” dengan perang. Dua perang dunia di abad dua puluh yang memiliki efek
global berporos di Eropa. Dengan melibatkan Inggris, US, AS, Cina, Jerman, Itali, Jepang serta memporak porandakan tidak hanya Eropa namun juga Asia Tenggara, Timur Tengah, Mediteriana serta Afrika  perang ini memakan korban hingga sedikitnya 50 juta jiwa.
(Mochtar Mso’ed, Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisa dan Teorisasi, Pusat antar Universitas, Studi Sosial Universitas Gajah Mada, Yogyakarta 1989, hal 175)

V2 :
Karakteristik unik yang dimiliki organisasi regional UE,
yaitu memiliki kebiasaan mengikat anggotanya dengan perjanjian (Treaty). The Treaty of Maastrich (1992), misalnya, yang menghasilkan Uni Eropa, merupakan perjanjian yang mengikat anggotanya dengan
sebuah perjanjian (Treaty) yang kuat, sebagaimana halnya
traktat-traktat lain seperti Traktat roma, Maastricht, Amsterdam dan Niece.  Namun tidak dengan ASEAN, kesepakatankesepakatan ASEAN tidak memiliki daya kohesifitas yang kuat, karena masih bersifat assosiasi (kerjasama multilateral)—berbeda dengan Uni Eropa yang supranasional—sehingga sebagai konsekuensinya, pertemuan
pertemuan ASEAN tidak mampu menghasilkan lembaga-lembaga yang
terlegitimasi dengan kuat seperti CPSF-nya Uni Eropa. Selain itu dalam
proses perundingan dan pengambilan keputusan di forum ASEAN juga
berkecenderungan melakukan konsensus terkesan menghindari
voting. Dikutip dari  pendapat Donald Emmerson
(Direktur Forum Asia Tenggara di
Pusat Riset Asia Pasifik Shorenstein di Stanford), Ia mengatakan:
“Perbedaan ASEAN dan Uni Eropa terletak pada proses perundingan, selama ini ASEAN umumnya diskusi dengan cara perundingan tak pernah voting, karena jika dilakukan voting ada pihak yang kalah, terkadang perundingan berakhir tanpa hasil bahkan terkadang keputusan yang diambil justru berasal dari pendapat minoritas, ini berarti kepiawean retorika sangat diperitungkan”.
(Dikutip dari tulisan John Feffer)

v3 :
Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kuatnya integrasi
Uni Eropa adalah tingkat prosentase eksport intra Uni Eropa terhadap total eksport organisasi regional itu. Uni Eropa memiliki angka 67,3%  di tahun 2005 sementara di tahun yang sama ASEAN hanya 22,1%.
(CPF. Luhulima, Masyarakat Asia Tenggara menuju  Komunts ASEAN 2015 P2P-LIPI& Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008, hal 122)

V4 :
Uni Eropa dapat dikategorikan pada organisasi supranasional, ini artinya Uni Eropa memiliki institusi pemegang otoritas. Bentuknya menyerupai negara, memiliki ekskutif (Komisi Eropa) dan legislatif (Dewan Uni Eropa)
sementara di sisi lain ASEAN masih berada pada tingkat kerjasama antar negara (Interstate cooperation) dan tidak memiliki institusi pemegang
otoritas yang berwenang untuk membuat kebijakan
(Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara: teropong Terhadap Dinamika, Realitas dan Masa Depan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal 196-224)
Kesimpulan Penelitian
Hasil perbandingan studi didapat bahwa dari segi ke 4 variabel yang diteliti Uni Eropa memegang integrasi regional lebih baik daripada ASEAN
Pendapat Mengenai Jurnal
Dari sisi jurnal yang disajikan, pembaca masih kebingungan dalam menelaah bagian-bagian yang penting seperti, metode, tujuan penulisan, kesimpulan, masih tidak tersusun dan tidak terlalu jelas sehingga menyulitkan pembaca dalam membaca dan menelaah jurnal.

Referensi :



Review Jurnal No 2 (Perkembangan Akuntansi Internasional)

Nama Jurnal
Jurnal Eksis
Volume/Halaman
Vol.7 No.2, Agustus 2011: 1816-2000
Nama Penulis
Aris Tri Cahyono
Judul Jurnal
META TEORI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DI INDONESIA - Menuju Konvergensi SAK di Masa Globalisasi
Tanggal Jurnal
Agustus, 2011
Tujuan Penelitian
-
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan kajian pustaka mendekatkan PSAK dengan
IAS/IFRS melalui dua strategi.
Variabel Penelitian
Standar Akuntansi, Konvergensi, Globalisasi
Hasil Penelitian
Konvergensi Standar Akuntansi yang dilakukan di Indonesia sendiri dirumuskan oleh IAI melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) sejak konvensi nasional akuntansi V di Yogyakarta. Keputusan yang diambil DSAK saat ini adalah mendekatkan PSAK dengan IAS/IFRS melalui dua strategi. Strategi pertama dilakukan secara selektif dengan tiga target yaitu mengidentifikasi standar-standar yang paling penting untuk diadopsi seluruhnya, melakukan adopsi standar-standar yang belum diadopsi sambil merevisi standar yang telah ada dan target ketiga melakukan konvergensi proses penyusunan standar dengan IASB. Strategi kedua DSAK adalah dengan melakukan dual standard. Strategi kedua ini dilakukan dengan menerjemahkan seluruh IFRS secara sekaligus dan menetapkan waktu penerapannya bagi listed companies. Sedangkan bagi non listed companies tetap dengan PSAK yang ada.
Kesimpulan Penelitian
Standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dan kondisi hukum, sosial dan ekonomi suatu negara tertentu. Hal-hal tersebut menyebabkan suatu standar akuntansi di suatu negara berbeda dengan di negara lain. Globalisasi yang tampak antara lain dari kegiatan perdagangan antar negara serta munculnya perusahaan multinasional mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang berlaku secara luas di seluruh dunia. Upaya mewujudkan satu standar akuntansi Internasional adalah dengan melakukan konvergensi. Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) di masing-masing negara menghadapi beberapa masalah sepeti penterjemahan standar internasional, ketdaksesuaian antara standar internasional dan hukum nasional, struktur dan kompleksitas standar internasional, frekuensi perubahan dan kompleksitas internasional, konvergensi standar internasional pada standar akuntansi indonesia. IAI melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) melakukan proses konvergensi dengan melakukan penyesuaian terhadap Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang sudah ada. Untuk melakukan konvergensi ini, DSAK membuat strategi yang dilakukan secara selektif.
Pendapat Mengenai Jurnal
Strategi yang digunakan dalam pendekatan ini cukup efektif, hanya saja masih ada beberapa masalah yang harus dipertimbangan dalam pelaksanaan konvergensi, yaitu konvergensi standar dan proses konvergensi itu sendiri, ketersediaan dana, ketersediaan sumber daya lain, ketentuan perundangan di Indonesia dan Sosialisasi standar dan peluang moral hazard

Referensi :



Review Jurnal No 1 (Akuntansi Internasional)

Nama Jurnal
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Volume Jurnal
ISSN : 2337-3067
Nama Penulis
Made Anggia Pramita Sukma dan I Ketut Yadnyana
Judul Jurnal
KOMPARASI RELEVANSI NILAI INFORMASI AKUNTANSI DAN
MANAJEMEN LABA SEBELUM DAN SESUDAH ADOPSI IFRS
Tahun Jurnal
2016
Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan nilai informasi akuntansi sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS.
Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan manajemen laba sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS.
Metode Penelitian
Uji Chow Test dan Uji Paired Sample t-test
Variabel Penelitian
Nilai Informasi Akuntansi Perusahaan dan Manajemen Laba
Hasil Penelitian
Terdapat beda relevansi nilai informasi akuntansi non keuangan di BEI pada periode sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS, Terdapat perbedaan manajemen laba perusahaan non keuangan di BEI antara sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS.
Keseimpulan Penelitian
Terdapat beda relevansi nilai informasi akuntansi non keuangan di BEI pada periode sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS, Terdapat perbedaanmanajemen laba perusahaan non keuangan di BEI antara sebelum dan sesudah adopsi penuh IFRS.Earnings management mengalami penurunan sesudah adopsi
penuh IFRS pada tahun 2012 dan 2013,penurunan manajemen laba dilihat darimenurunnya rata-rata discretionary accrual yang dilakukan manajemen
Pendapat Mengenai Jurnal
Perlu adanya pengkajian ulang dan pertimbangan yang lebih matang apakah IFRS sudah cocok diterapkan di Indonesia, mengingat adanya penurunan manajemen laba dan menurunnya rata-rata penurunan manajemen laba dilihat darimenurunnya rata-rata discretionary accrual yang dilakukan manajemen.

Jurnal tersebut masih memiliki kekurangan berupa rentang waktu dan akan lebih baik apabila variable penelitian ditambahkan.

Referensi :